Skip to main content

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja. 

Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian.

Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini. 

Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa Tengah. Solo, Salatiga, Semarang. Benar lah, saya jatuh cinta pada provinsi ini. 

Tahun ini, saya masih ingin melanjutkan keinginan saya sejak beberapa tahun lalu, yaitu meng-khatam-kan Jawa Tengah. Provinsi cantik dengan 29 Kabupaten dan 6 Kota ini berhasil membuat saya penasaran dengan kekayaan alam dan budayanya.
 Salah satu tempat favorit melihat telaga warna dan pengilon dari ketinggian.

Saya terlanjur terpesona oleh Dieng,  tergila-gila dengan batik, terkagum-kagum dengan Candi-candi, atau tersipu-sipu oleh sunrise Posong yang super keren.

 Batik tulis Lasem nan istimewa. 
Batik dengan ciri khas pesisiran sekaligus pedalaman.

  Sunrise Posong yang keren




Khusus tahun ini, saya ingin mendokumentasikan Masjid-masjid Agung yang ada di alun-alun kota. Yep, hampir setiap Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah (atau Jawa) memiliki alun-alun dan masjid agung di sebelah barat alun-alun. Kenapa? Saya belum pernah mendengar cerita langsung dari narasumber. Tapi, beberapa sumber di internet menyebutkan bahwa alun-alun telah menjadi identitas kota-kota di Jawa sejak jaman prakolonial(*). Di masa kerajaan Majapahit hingga Mataram ( Abad 13 -18 ), alun-alun selalu menjadi bagian dari kraton. Menarik ya?

Masjid Agung Al Jami Pekalongan. Lihat kubah hijaunya :)

Syukurlah, awal Januari ini sudah mengunjungi Masjid Agung Al Jami Pekalongan. Masjid tertua di kota Pekalongan ini memiliki arsitektur yang unik. Sekilas bangunan depan dan menara sangat kental dengan nuansa arsitektur Timur Tengah, tapi saat melihat dari kejauhan, akan tampak kubah hijau khas arsitektur Jawa. Menyenangkan sekali melihat perpaduan ini. :)

Maka, di 2015 ini....
Semoga terwujud. :)


--------
Terima Kasih pergidulu.com, karena kuis berhadiah kameranya, saya jadi menuliskan hal yang tak terucap. ;)
--------

(*)Sumber : https://history1978.wordpress.com/2010/04/10/alun-alun-sebagai-identitas-kota-jawa-dulu-dan-sekarang/

Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...