Skip to main content

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik.

Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari.

Ini dia!


Museum Batik Pekalongan
Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2006, kini Museum Batik Pekalongan memiliki koleksi batik mencapai 1219 buah. Sekira 20-30 persen koleksi batik diletakkan di ruang pamer yang terbagi atas 3 ruangan, yaitu ruang pamer pertama (batik Indonesia), ruang pamer kedua (pesisiran dan pedalaman) dan ruang pamer ketiga (koleksi batik tokoh nasional dan hasil lomba rancang desain batik).


Salah satu koleksi batik tertua yang dimiliki oleh Museum ini ialah Batik motif Jlamprang dengan tahun pembuatan 1920. Faktor usia menyebabkan serat kain batik tersebut menjadi rapuh dan rusak pada bagian tertentu. Oleh karena itu, sebelum digulung dan disimpan, kain batik dilapisi dengan kain baru. Batik Pagi Sore banyak berkembang pada masa penjajahan Jepang. Kala itu, kebutuhan akan sandang sulit terpenuhi. Para perajin batik pun berkreasi dengan membuat corak dan warna berbeda dalam satu helai kain.

Selain ruang pamer, Pengelola Museum juga memiliki ruang khusus sebagai tempat belajar membuat batik. Pengunjung dapat merasakan sensasi menggambar di atas kain selebar sapu tangan dengan alat tulis canting dan tinta malam cair. Atau memperagakan pembuatan batik cap dengan alat press bermotif . Tak hanya itu, pengelola juga menyediakan wadah kayu tempat pewarnaan kain.


Museum Batik memperoleh penghargaan best practices dari UNESCO
sebagai tempat pembelajaran batik. Kemudian, pada 1 Desember 2014, UNSECO memasukkan kota Pekalongan ke dalam anggota jaringan 29 kota kreatif bidang Kerajinan dan Seni Rakyat  yang berada di 19 negara. Kota Pekalongan adalah satu-satunya di Asia Tenggara.

Masjid Jami' Kauman Kota Pekalongan
Masjid ini merupakan salah satu landmark kota Pekalongan. Terletak di sisi barat alu-alun kota, Masjid Jami' Kauman Pekalongan memiliki arsitektur campuran khas Jawa dan Timur Tengah. Hal ini bisa dilihat dari fasad bangunan dengan atap berbentuk limasan dan serambi masjid. Menurut Wikipedia, Masjid ini telah berusia lebih dari 150 tahun.






Garang Asem H. Masduki
Tak jauh dari Masjid Jami' Kauman Pekalongan, tepatnya Kompleks Travel sisi utara alun-alun, terdapat rumah makan yang menyajikan kuliner khas kota Pekalongan, Garang Asem H. Masduki. Garang asem adalah masakan berbahan dasar daging sapi dengan kuah menyerupai rawon serta cita rasa asam yang menyegarkan. Satu porsi garang asem dihargai 20K IDR.



Kampung Batik Pesindon
Kota Pekalongan memiliki dua kampung batik, yaitu Kampung Batik Kauman dan Pesindon. Kampung Batik Kauman terletak di sebelah masjid Jami' Pekalongan, sedangkan Kampung Batik Pesindon terletak di jalur utama arah Semarang, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk. Kampung Batik Pesindon diresmikan satu tahun sejak pengukuhan Batik oleh UNESCO. Melewati gang-gang kecil, Kampung Pesindon masih dapat dijangkau dengan kendaraan beroda empat. Beberapa showroom dan workshop batik juga telah menyediakan area parkir untuk pembeli. Uniknya, beberapa sisi tembok dihiasi dengan grafiti tentang definisi batik dan kampanye untuk mencintai batik.



Pekalongan Mangrove Park
Ini dia primadona baru wisata di kota Pekalongan. Berdiri di lahan bekas tambak udang, Pemerintah Kota Pekalongan mulai mengembangkan Pekalongan Mangrove Park (PMP) di kawasan pesisir, tepatnya di kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara. Pada mulanya PMP merupakan pilot project pengelolaan hutan Mangrove. Secara bertahap, kawasan konservasi ini juga berfungsi sebagai tempat edukasi serta ekowisata. Berbagai fasilitas pun telah tersedia, antara lain menara pandang,  jalur pejalan dan shelter, dan perahu wisata. Menggunakan perahu yang menyerupai banana boat, pengunjung dapat melihat lebih dekat aneka jenis bakau yang tumbuh subur juga menyusuri hutan bakau yang dikenal juga dengan 'lorong cinta' ditemani semilir angin pantai. Untuk menaiki perahu wisata ini, pengunjung dikenakan biaya 10 IDR / orang.










Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...