Skip to main content

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro


Baiklah, tenggo! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang.

Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama.

Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat.

Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memasuki Wonosobo, tepatnya di daerah Kledung. Hari menjelang gelap. Saya menatap papan petunjuk bertuliskan " Wisata Alam Posong ". Sudah berkali-kali mimpi kesini, akhirnya datang juga. Ada apa di Posong? Kedua teman saya bertanya-tanya. Sebelum menjawabnya, saya mengajak mereka untuk segera menyebrang, menuju loket.

Unying dan Nita

Dua orang laki-laki dan dua motor terparkir tak jauh dari loket."Tunggu sebentar Mbak. Mas Zuni sedang mengantar anaknya", ujar salah satunya. Saya memang sudah membuat janji dengan Mas Zuni. Sebagai pengelola Posong, kami banyak dibantu. Termasuk, kendaraan roda dua yang akan mengangkut kami menuju area Posong yang sebenarnya. Tak lama kemudian, Mas Zuni datang dengan motornya.

Jalan menanjak dan berbatu menyebabkan goncangan yang cukup keras, ditambah lagi tas punggung yang lumayan berat. Saya berpegangan erat pada besi di pinggiran jok motor bagian belakang. Khawatir merosot. Baru kali ini saya dibonceng motor, tapi mengeluarkan ekstra tenaga. Lambaian daun tembakau tertiup angin turut menyemangati saya. Ternyata 4 km dari loket dengan medan sedemikian rupa tidaklah sebentar. Perjalanan penuh goncangan tersebut memakan waktu sekitar 15 menit.


Saya tiba paling akhir. Menengok kanan kiri. Saya sumringah. Ini, di antara Sindoro dan Sumbing.
Mas Zuni dibantu kedua rekannya dengan sigap memasang tenda yang akan menjadi tempat istirahat kami malam nanti. Lamat-lamat terdengar azan Maghrib. Kami bertiga mengambil air wudhu.

Memasang Tenda

Tenda kuning dengan tiga 'kamar tidur' dan satu 'ruang serbaguna' telah tegap berdiri. Nita, Unying dan Saya takjub melihatnya. Kami memang bukan pendaki. Saya mengintip di salah bagian dan wow...sebuah kasur kecil, selimut, bantal angin, dan sleeping bag. Kami meletakkan semua barang bawaan. Hari ini kami camping di ketinggian 1700 m dpl. Seru!!, sorak saya dalam hati.

Tidurnya di sini :)

Di depan tenda telah tersedia kursi panjang dan tong untuk api unggun. Tak tanggung-tanggung, bahkan Mas Zuni menyediakan kompor gas, alat dapur dan beberapa bungkus mie instant. Pelayanan prima, pikir saya. Dengan Rp 145,000/ orang kami mendapat fasilitas tenda, api unggun, makan malam, dan makan pagi.

Tenda satu-satunya


Sambil duduk-duduk. Mas Zuni bercerita banyak hal tentang Posong.

"Dulu, kami bekerja di hotel dan biro perjalanan. Kami juga hobi naik gunung. Akhirnya kami mencari lokasi sunrise yang dekat, tidak harus ke Dieng. Ternyata, ada di desa kami sendiri. Di sini, Posong."

Obrolan berlanjut dengan perjuangan Mas Zuni dan rekan-rekannya dalam merintis Posong, mulai dari pembebasan lahan, pembangunan fasilitas, hingga akhirnya penghargaan dari pemerintah daerah sebagai salah satu Daya Tarik Wisata Unggulan di Kabupaten Temanggung. Saya berdecak kagum. Merintis suatu hal dari nol bukanlah perkara mudah.

"Musim kemarau adalah waktu terbaik mengunjungi Posong. Jam 10 an nanti bisa melihat gugusan bintang."

Musim kemarau, cuaca cerah, minim polusi cahaya pula. Langit pasti cantik sekali malam ini. Dan...benar saja.

Mencoba memotret Langit, tapi masih 'blur' :'D

Malam semakin larut, kami sepakat masuk ke dalam tenda. Menghangatkan badan dengan dua lapisan selimut. Namun gagal, karena di musim kemarau begini, udara menjadi lebih dingin. Brrrrr....

Sebenarnya ada apa di Posong?
Jawabannya masih tersimpan hingga kami terlelap.

Bunyi mesin kendaraan bermotor membangunkan kami. Sepertinya ada pengunjung datang. Masih pukul 3 pagi. Saya membasuh wajah dengan air. Segar. Saya menepi, mendekati area parkir. Pemandangan dari ketinggian selalu memukau. Siluet Gunung Sumbing tepat di hadapan. Gemerlap lampu kota. Awan berarak.
Tak terasa azan Subuh berkumandang. Setelah sholat, kami berusaha mencari posisi. Saya belum terlalu familiar dengan tata ruang area ini karena datang saat hari sudah gelap. Mas Zuni menghampiri. "Sebelah sana , Mbak." Ia menunjuk ke atas. Kami berjalan di antara ladang tembakau.

Pukul 5 pagi. Posong semakin ramai. Sepertinya pengunjung sudah paham, kapan mereka harus datang. Semburat jingga mengintip dari batas cakrawala. Selama satu jam kemudian, kami disuguhi fenomena alam yang memesona. Menghidupkan banyak syukur atas kebesaran Sang Pencipta.


Siluet Gunung Sumbing dan Ladang Tembakau

Menyongsong Fajar di Posong
Kamehamee...haa...


Terjawab sudah pertanyaan itu...

Posong adalah lukisan alam 7 puncak gunung, yaitu Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran, hingga Muria. Perihal nama Posong, ada sumber mengatakan berasal dari kata Pos dan Kosong. Konon kawasan ini merupakan tempat persembunyian pasukan Diponegoro dari kejaran tentara kolonial Belanda. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Temanggung masuk ke dalam wilayah Karesidenan Kedu. Di wilayah inilah, Pangeran Diponegoro bersama pengikutnya melakukan perang gerilya melawan penjajah. Termasuk salah seorang kerabat dari Pangeran Mangkubumi dari Kerajaan Mataram yang melahirkan seorang putera saat mengungsi di sebuah desa dekat Posong. Karena keramahan penduduknya, ia menamai desa tersebut dengan Tlahap yang berasal dari bahasa Jawa terdiri atas kata Ketelah dan Rahap. Kini, secara administratif, Posong masuk ke dalam wilayah Desa Tlahap, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung.  


Tips :
+ Posong dapat dikunjungi dengan kendaraan bermotor roda dua maupun empat, sehingga cocok untuk wisata keluarga.
+ Tersedia 2 pilihan bermalam di Posong : menyewa tenda (camping) dan menginap di homestay di Desa Wisata Tlahap.
+ Jika bermalam dengan tenda, harap membawa persediaan air yang cukup untuk kebutuhan selama camping.
+ Pakaian hangat / jaket untuk mengantisipasi udara dingin.
+ Tersedia fasilitas paket wisata dari pengelola. CP. Zuniyanto 0813 9297 3130

Penutup
Enam bulan kemudian, tepatnya bulan Januari, saya kembali ke Posong. Saya cukup kaget karena tak ada lagi ladang tembakau. Para petani tengah bergiat menggarap lahan mereka dengan tanaman hortikultura. Mencangkul, mencampur pupuk menjadi kesibukan. Kapan tembakau ditanam? tanya saya. 
Bulan Maret dan panen pada bulan Agustus, jawab mereka. Dan tak hanya kubis atau daun bawang, tanah subur kaki Sindoro pun  menghijaukan pohon kopi dan tebu.
Posong selalu indah.
Semburatnya dinanti tiap pagi.
Hasil ladangnya menghidupi.


Tak ada Tembakau di Januari

Menggarap lahan


-- Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 3“ yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID.--

















Comments

Popular posts from this blog

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...