Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2015

4 Icip-icip wajib di Kota Magelang

Cukup banyak kota-kota di Jawa Tengah yang terkenal sebagai Surga Kuliner. Kota Semarang dan Surakarta (Solo) adalah dua diantaranya. Namun kali ini saya diajak teman-teman menelusuri 'surga kuliner' lainnya di selatan Semarang. Sebuah kota kecil berhawa sejuk karena dikelilingi gunung dan barisan pegunungan, tempat dulu saya pernah berstatus sebagai 'penduduk'.  Selamat datang di kota Magelang. Tahu Kupat Pojok Kenapa dinamakan Kupat Tahu Pojok, mungkin karena lokasinya berada di sudut perempatan jalan (cmiiw) tepatnya Jl. Tentara Pelajar (barat daya alun-alun). Sebenarnya Tahu Kupat Pojok adalah sebuah 'merk' rumah makan yang menjual menu Tahu Kupat. Karena, tepat di sebelahnya, terdapat rumah makan yang menjual menu serupa. Tahu Kupat sendiri terbuat dari campuran potongan tahu goreng, ketupat, kol, bakwan, kemudian diguyur kuah kacang bercita rasa manis dan pedas. Es Semanggi Masih di kawasan alun-alun kota Magelang. Depot Es Semanggi adalah ...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

Pesan Rahasia Stasiun Ambarawa

Pagi itu saya beruntung. Meski masih dalam renovasi di beberapa area, Museum Kereta Api Ambarawa telah resmi dibuka kembali sejak 1 Oktober 2014. Bunyi khas cerobong lokomotif uap menggema hingga ke parkiran. Saya bergegas. Takut ketinggalan. Bukan ketinggalan kereta, melainkan ketinggalan momen memotret.   Kereta telah kembali  Sang Kepala Stasiun mengangkat tongkatnya. Kereta pun melaju perlahan. Semakin lama bagai titik di tengah laut *boong*. Lokomotif tua bernomor seri B5112 menarik dua buah gerbong berpenumpang. Belum sempat saya mengeluarkan kamera. Ingin rasanya melambaikan tangan. Dalam hati berdoa, semoga kelak bisa merasakan sensasi serupa. Entah kapan, karena harga sewa dan operasional kereta mencapai puluhan juta. Di situ kadang saya merasa sedih... Kepala Stasium kemudian menyambut kami di ruang kerjanya. Kemeja berdasi adalah seragam wajib seorang kepala stasiun setiap memberangkatkan dan menyambut kedatangan kereta. Ia pun mulai berkisah. Bany...

Candi Plaosan : Tanda Cinta Sang Raja

Satu hal yang sukai dari mengikuti para pemburu berita adalah mereka akan bertemu dengan narasumber. Jika foto saja dapat bercerita, maka Narasumber akan membuat skenario semakin indah dan (bisa jadi) happy ending . :D Seperti saat mengikuti para pewarta menelusuri Candi Plaosan di Klaten. Candi yang terletak tak jauh dari Candi Parambanan ini dibangun sekitar abad 8-9.Tak disangka, inilah Candi tanda cinta dari Rakai Pikatan kepada sang permaisuri , Pramudyawardhani. Uniknya, Candi Plaosan adalah Candi Budha dengan arsitektur campuran Hindu-Budha yang bisa dilihat dari perbedaan ciri bangunan pada candi induk dan candi pendamping (perwara). Pada candi-candi perwara terdapat prasasti yang menunjukkan bahwa candi-candi tersebut merupakan persembahan dari raja-raja lain.   Candi Perwara Candi Plaosan dikelilingi oleh parit. Pada masa itu, air, gunung dan sawah merupakan unsur penting. Ketiganya juga bagian dari konsep pembangunan Candi yang didirikan di antara sam...

Sehari di Punggung Merapi

Hujan deras menemani di sepanjang perjalanan. Berbekal petunjuk lisan kami menyusuri jalan lengang dan pekat. Arus air bercampur batu-batu kerikil dan tanah bergulir di antara aspal membuat kendaraan berguncang. Wiper mobil bekerja maksimal, semoga lah kami segera sampai pada tujuan. Akhirnya, kami tiba di Pasar Selo. Warung Jadah Bu Yanti, ujar teman saya.  Setelah berbalik arah beberapa kali (karena nyasar), terlihat jua lah tulisan 'mungil itu. Warung Jadah bakar Bu Yanti. Bu Yanti (mungkin bukan nama sebenarnya) dengan sigap menyalakan tungku dan membakar beberapa Jadah yang telah disiapkan. Kami pun tak kalah sigap, memotret sana-sini, sembari bertanya ini itu. Jadah merupakan kuliner khas masyarakat Selo. Jadah terbuat campuran kelapa parut ,garam dan adonan beras ketan yang telah direndam satu malam lalu dikukus. Adonan yang telah dikukus, kemudian ditumbuk dalam cetakan dan ditunggu hingga dingin. Sebelum disajikan, jadah dibakar di atas bara api. Setelah i...