Skip to main content

Laju lah laju Kereta Api

Suatu waktu di tahun 2011, Ibu dan saya menghadiri undangan saudara di Slawi. Singkat cerita, Ibu dan saya harus pulang dan kami punya rute perjalanan yang berbeda. Ibu perjalanan ke barat, saya ke timur.
Perempatan rita mall di kota Tegal menjadi titik perpisahan kami. Ibu harus mengejar bis ke Terminal Tegal, saya menuju agen bis nusantara jurusan Semarang.

Dengan becak, saya duduk tanpa mengangkat kaki, melihat dg pasti ke kanan dan ke kiri, untung becakku tidak lari bagai tak berhenti. Dan...tadaa...sampailah di agen bis nusantara.
Saya turun dari becak, membayar, langsung menuju loket. Yes! Bis nusantara dinyatakan PENUH hingga pemberangkatan terakhir.

Saya segera memutar otak dan sempat teringat ada agen travel cipaganti. Saya googling sesaat untuk dapatkan no teleponnya. Hasilnya? Sama penuhnya.

Kemudian saya teringat lagi, di suatu masa yang lampau, saya pernah menaiki kereta api Kaligung dg rute Tegal - Semarang. Saya bergegas hampiri tukang becak lagi menuju stasiun Tegal.
Sepanjang jalan saya H2C alias harap harap cemas. Hari sudah beranjak siang. Inginnya tiba di Semarang sebelum gelap.

Rupanya jarak yang ditempuh tidak begitu jauh. Sempat celingukan, membiasakan dengan tempat yang baru pertama kali didatangi. Sampai di depat loket, tiket kereta api Kaligung jurusan Semarang dinyatakan HABIS. Saya tak sendiri. Banyak penumpang lain yang juga mengalami nasib yang sama.

Hampir kehabisan ide, saya bertanya pada Pak Satpam yang bertugas. Pak, bagaimana caranya ke Semarang? Sebenarnya maksud saya, apakah ada kereta api lain yang bisa mengangkut saya ke Semarang.
Pak Satpam menjawab dengan pasti, dengan KA Harina mbak, dari Bandung. Eh Harina ya?  itu kan eksekutif. Wo..oo..

Dengan perbekalan yang ada, akhirnya saya membeli tiket KA Harina, demi pulang Semarang.
Alhamdulillah... Semarang, saya pulang. :')

Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...