Skip to main content

Lawang Sewu dan Sejarah Perkeretaapian di Indonesia

Akhir tahun 2009 ke Lawang Sewu, saya disambut pagar pembatas. Karena cukup tinggi, sebagai wisatawan nusantara (saat itu) ,saya hanya mengintip-intip sedikit dan mencoba merekam lewat lensa kamera. Lawang sewu dipugar.

  Lawang Sewu, Nopember 2009
Lawang Sewu, Nopember 2009
Titik Pengambilan Gambar : Tugu Muda Semarang
Tahun 2011, Lawang Sewu secara resmi dibuka kembali oleh Ibu Ani Yudhoyono. Meluangkan waktu, teman-teman kantor dan saya ikut menjadi penggembira pembukaan Lawang Sewu yang kini semakin telihat keren dan menarik. Kami juga mencoba memasuki 'dunia kegelapan' bawah tanah Lawang Sewu.

 Lawang Sewu, Juli 2011

Lawang Sewu, Juli 2011
Tak kusam lagi :)

Kini, Lawang Sewu tak pernah sepi. Semakin banyak penngunjung serta event yang berlangsung di bangunan bersejarah ini.

 Lawang Sewu, 2013
Dok. Dinbudpar Prov. Jateng

Lawang Sewu, 2013
Dok. Dinbudpar Prov. Jateng

Berbicara tentang sejarah, saya sempat men-scan- leaflet tentang Pemugaran Lawang Sewu yang diterbitkan oleh PT. KAI. Di dalamnya juga berisi tentang sejarah singkat Lawang Sewu yang ternyata tak kalah menarik. Berikut hasil sadurannya :

Sejarah gedung Lawang Sewu tak lepas dari sejarah perkeretaapian di Indonesia karena LawangSewu awalnya didirikan sebagai Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Spoorweg Maatschappij (NIS) atau Kantor Pusat Perusahaan Kereta Api Swasta NIS. Setelah tanam paksa (1830-1850),hasil pertanian di Jawa tak lg sekedar memenuhi kebutuhan sendiri melainkan jg untuk pasar internasional, sehingga diperlukan sarana transportasi untuk mengangkutnya dari pedalaman ke kota-kota pelabuhan.

Setelah jalan raya Anyer-Panarukan dirasa tdk memadai lagi, maka muncullah gagasan untuk membangun jalur kereta api yg disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1862. Pembangunan jalur kereta api pertama di pulau Jawa yaitu jalur Semarang- Vorstelanden, daerah kerajaan Yogyakarta & Surakarta yang merupakan daerah pertanian paling produktif dan Jalur Batavia- Bogor. Setelah itu berkembanglah pembangunan jalur-jalur lain.

Seiring pertumbuhan jaringan rel NIS & bertambahnya jumlah karyawan, kantor administratif di Stasiun Semarang tak lagi memadai. Sebagai jalan keluar, NIS menyewa beberapa bangunan milik perorangan. Karena kurang efisien efisien,NIS memutuskan untuk membangun kantor di lokasi baru. Pilihan lokasi jatuh pada lahan di pinggir kota dekat kediaman residen (kepala daerah) di sudut pertemuan Bodjongweg (jl. pemuda) dengan Semarang naar Kendalweg (jalan raya menuju Kendal).

Direksi NIS menugaskan arsitek Ir P de Rieu untuk membangun membangun gedung percetakan di lahan tersebut dan mendesain Gedung utama untuk kantor NIS. Ada 3 cetak biru bangunan yang dipersiapkan dan dibuat di Amsterdam, namun pembangunan terhambat sampai akhir tahun 1903. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer dan BJ Ouendag dibantu CG Citroen untuk membangun kantor NIS dengan arsitektur bergaya Belanda. Pembangunan gedung utama NIS dimulai 27 Feb 1904 dan selesai Juli 1907. Posisi lahan pada persimpangan mengilhami arsitek membuat gedung bersayap (gedung induk, sayap kiri dan sayap kanan), Proses pembangunan memakan biaya & waktu lama, karena sebagian besar bahan bangunan diimpor dari Eropa dan merupakan pesanan khusus. Selama masa pembangunan, pekerja yang dikerahkan setiap harinya sekitar 300 orang. Beberapa tahun kemudian, dibangun sayap baru di timur laut sekitar tahun 1916-1918.
Sumber : Brosur "Purna Pugar Gedung A Lawang Sewu" Unit Benda dan Bangunan Bersejarah PT. Kereta Api Indonesia (Pesero)

Oh ya, Bangunan ini disebut oleh penduduk lokal dengan nama Lawang Sewu. Dalam bahasa Jawa, Lawang berarti Pintu, Sewu berarti Seribu. Seribu Pintu, tak lain karena jumlah pintu di bangunan ini berjumlah banyak sekali.
  

Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...