Situasi kondisi seringkali menciptakan kreativitas baru. Mungkin cocok kiranya kalimat tersebut menjadi pengantar kisah di balik kuliner Tengkleng. Dahulu, hanya para tuan dan noni Belanda yang dapat menikmati kelezatan olahan daging kambing dengan kuah kental. Sementara, rakyat jelata hanya dapat menyaksikan mereka makan. Sisa-sisa bagian kambing, seperti tulang dan jeroan, dibuang. Para kuli mengolah sisa bagian kambing (selain daging) itu bersama kuah encer bernama tengkleng.Namun, lain dulu lain sekarang, tengkleng menjadi masakan berkelas yang juga tersaji di hotel berbintang.
Tengkleng merupakan masakan sejenis gulai tanpa santan. Rasanya gurih bercampur sensasi pedas dari cabai. Kenikmatan tengkleng tak hanya dari rasa, melainkan juga dari cara memakannya, yaitu dengan menggerogoti. Menggerogoti adalah cara lazim, karena tengkleng asli menggunakan tulang belulang sebagai bahan utama, maka hanya sedikit daging yang menempel.
Kuliner rakyat nan berkelas ini dapat dijumpai di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo.
Datang dan cicipi langsung sensasi 'tulang belulang' di Warung Tengkleng Mbak Diah Solo Baru Sukoharjo, Warung Tengkleng Bu Edi di Pasar Klewer Solo, atau Warung Sate Mbok Galak di Banyuanyar Solo.
Tengkleng Mbak Diah- Solo Baru
Kuliner rakyat nan berkelas ini dapat dijumpai di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo.
Datang dan cicipi langsung sensasi 'tulang belulang' di Warung Tengkleng Mbak Diah Solo Baru Sukoharjo, Warung Tengkleng Bu Edi di Pasar Klewer Solo, atau Warung Sate Mbok Galak di Banyuanyar Solo.
Comments