Skip to main content

Dijeng 12 Djam

"Coba Mbak, cari di internet dengan kata kunci Dijeng, dengan 'j'," ujar Pak Alif, seorang penggiat wisata di Dieng Kulon. Fasilitas wifi di homestay milik Pak Alif menjadi andalan untuk segera ber-googling ria. Yes, ini dia.
"Gambar itu diambil oleh orang Belanda dari bukit pangonan. Pemandangannya tidak kalah dengan Sikunir", jelasnya. Saya menunjukkan gambar hasil googling untuk memastikan.
"Rencana, dalam waktu dekat kita mau me-launching bukit pangonan," tambahnya
Nah lho, baru kembali dari puncak sikunir sudah diiming-imingi spot ketinggian lainnya. Duh Dijeng, pesonamu....

Puncak Sikunir
Ini dia, gapura 'Welcome to Sembungan Village, desa tertinggi di Jawa'. Segera kami mencari parkir sebelum penuh. Sekitar pukul 3 pagi, kami memulai pendakian. Sebelumnya, transit di toilet umum adalah keputusan bijak, mengingat udara yang dingin. Brrr....
Baru sampai di jalan masuk, kami mendengar percakapan. Salah satunya berkata, "Nanti saja naiknya, masih jam segini."
Kami yang mendengar dibuat galau.
Akhirnya, kami memutuskan tetap pergi. "Mbak, nanti ada pertigaan ambil yang kanan," terngiang pesan sang juru parkir. "Kalau ambil yang kiri,nanti tidak bertemu dengan yang lainnya," tambahnya. Sekilas terdengar seperti pesan horor.
Belum sampai setengah jalan, kami sudah disusul oleh rombongan lainnya. Antrian mulai mengular. Semua berbekal senter bak akan menonton konser idol group. Semua semangat mendaki, menuju puncak sikunir.
Bagi para pecinta fotografi dan pemburu matahari terbit, puncak sikunir adalah lokasi favorit. Dari lokasi ini, pengunjung dapat melihat gugusan bintang dengan mata telanjang tanpa polusi cahaya. Saat waktu pagi menjelang, the golden sunrise menjadi lakon utama.

Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...