Setelah dibikin penasaran dengan upload-an foto di akun Instagram, saya berharap bisa mengunjungi Museum Klaster Sangiran yang baru. Alhamdulillah... terwujud. :)
Kawasan Sangiran terletak di Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen yang dapat ditempuh melalui kota Surakarta ke utara menuju arah purwodadi atau dari kota Semarang ke selatan , kemudian berbelok kiri pada lampu merah sebelum terminal Tingkir - Salatiga.
Sebelum menjadi Situs Warisan Dunia, kawasan Sangiran dikenal sebagai area yang gersang. Lahan mereka hanya bisa digarap pada saat musim penghujan. Saat musim penghujan datang, terjadi tanah longsor di beberapa titik yang justru menyingkap penemuan fosil. Masyarakat Sangiran menyebutnya 'balung buto' dan dimanfaatkan sebagai ramuan obat oleh para shinse. Van Koenigswald datang ke Sangiran pada tahun 1934. Ia memperkenalkan pada masyarakat bahwa balung buto tersebut merupakan fosil, salah satu benda berharga. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, masyarakat menjual fosil-fosil temua mereka. Lambat laun, jual beli fosil menjadi kebiasaan.
Pada tahun 1992, pemerintah mengeluarkan Peraturan yang melarang jual-beli fosil melalui UU No. 5 Tahun 1992. Kini, hubungan harmonis telah terjalin antara warga dan peneliti. Warga Sangiran dengan terbuka menjadi tuan rumah, bahkan menjadi mata tombak bagi setiap tahap awal penelitian ; menemukan atau menunjukkan lokasi tempat fosil ditemukan.
Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia (world heritage) tahun 1996 lalu, Situs Sangiran semakin dikenal luas. Ditambah lagi display pameran yang sangat keren (menurut saya). Melihat diorama yang sangat 'menggambarkan' kondisi di masa itu. Bagai panggung pertunjukan yang membuat saya ingin berfoto di antaranya. :D
Pengen bisa berfoto di dekat kerbau purba ;)
Klaster Bukuran merupakan pusat informasi mengenai teori evolusi manusia purba yang disajikan melalui visual grafis dan interaktif. Di sini terdapat booth mini yang dilengkapi dengan perangkat audio visual bagi pengunjung yang ingin menyaksikan video tentang teori evolusi. Pada bagian lain tersaji pula game edukasi interaktif dengan teknologi layar sentuh.
Berikutnya, Klaster Ngebung. Museum ini menampilkan para peneliti dalam upaya mengeksplorasi potensi Situs Sangiran. Profil Tokoh-tokoh seperti Raden Saleh, J.C. van Es, Eugene Dubois, G.H.R Von Konigswald disajikan secara lengkap dalam bentuk visual. Tak tanggung-tanggung, pada salah satu ruangan disetting seperti suasana kelas lengkap dengan meja-kursi dan papan tulis kapur. Uniknya, di beberapa meja disediakan monitor interaktif.
Diorama Ekskavasi
Terakhir, Museum Manyarejo menyajikan dokumentasi penelitian, legenda masyarakat dan koleksi memoribilia yang dimiliki masyarakat sekitar dan peneliti. Ruang ini menghadirkan kolaborasi dari berbagai disiplin ilmu yang telah bekiprah sejak awal Babad Tanah Sangiran hingga hari ini.
Sumber Informasi :
1. Display Informasi di Museum Bukuran, Ngebung dan Manyarejo
2. Brosur tentang Museum Klaster Sangiran



Comments