Skip to main content

Sehari di Punggung Merapi

Hujan deras menemani di sepanjang perjalanan. Berbekal petunjuk lisan kami menyusuri jalan lengang dan pekat. Arus air bercampur batu-batu kerikil dan tanah bergulir di antara aspal membuat kendaraan berguncang. Wiper mobil bekerja maksimal, semoga lah kami segera sampai pada tujuan.

Akhirnya, kami tiba di Pasar Selo. Warung Jadah Bu Yanti, ujar teman saya.  Setelah berbalik arah beberapa kali (karena nyasar), terlihat jua lah tulisan 'mungil itu. Warung Jadah bakar Bu Yanti. Bu Yanti (mungkin bukan nama sebenarnya) dengan sigap menyalakan tungku dan membakar beberapa Jadah yang telah disiapkan. Kami pun tak kalah sigap, memotret sana-sini, sembari bertanya ini itu.



Jadah merupakan kuliner khas masyarakat Selo. Jadah terbuat campuran kelapa parut ,garam dan adonan beras ketan yang telah direndam satu malam lalu dikukus. Adonan yang telah dikukus, kemudian ditumbuk dalam cetakan dan ditunggu hingga dingin. Sebelum disajikan, jadah dibakar di atas bara api. Setelah itu, jadah bakar siap disantap bersama serundeng. :9

Jadah telah habis (kami lahap). Homestay telah menunggu. Udara dingin pegunungan mulai menusuk kalbu. Untunglah homestay menyediakan fasilitas air hangat. Perut kenyang. Badan segar. Saatnya tidur. Sebelum tidur, kami diwanti wanti agar besok bangun pagi sekali. 

Pagi sekali, dapur pemilik homestay sudah mengebul. Sekitar pukul setengah enam kami meninggalkan homestay. Tanah dan jalan basah sisa hujan semalam masih jadi penanda. Kabut juga belum pergi. Kami diajak menuju sebuah bukit tak jauh dari homestay. Oh ya, dimanakah kami berada? Ini adalah desa wisata Samiran di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Desa Samiran adalah juara nasional desa wisata pada tahun 2013. Banyak sekali homestay di desa ini. Pun dengan harga sederhana sudah dapat fasilitas makan 3 kali. :) Mantap.

Di depan kami ada sebuah pohon beringin tinggi yang terletak di tengah-tengah pertigaan jalan. Rupanya pohon tersebut peninggalan Pakubuwono X dari Keraton Surakarta. Kami berbelok di sebuah jalan kecil untuk menaiki sebuah bukit untuk berburu sunrise, meskipun sebenarnya...cuaca mendung. Perlahan punggung Merapi terlihat, meski puncaknya berselimut awan. Tak hanya itu, kami juga berkunjung ke pos Pemantauan Merapi. Di dalam Pos terdapat dokumentasi dahsyatnya erupsi Merapi tahun 2010 lalu. Betapa Allah swt Maha Besar, Maha Berkuasa atas langit dan bumi.



Petualangan kami berlanjut ke desa sebelah untuk menyaksikan proses pemerahan susu sapi.Saya terkejut karena kandang sapi berada di dalam rumah ( dikelilingi tembok, atap rumah dan jendela ). Satu ekor sapi pejantan,  sapi betina, dan pedhet (anak sapi) menyambut kami. Saya maju mundur karena sapi jantan beberapa kali bersin, seperti merasa terganggu atas kehadiran se'rombongan' manusia.Setiap hari pemilik Sapi mengeluarkan dana Rp 30.000,- untuk ketiga sapinya.


Setelah mencicipi segelas susu sapi segar dan hangat, kami menuju ke sebuah Jembatan gantung. Jaraknya lumayan jauh juga, sekitar 10 menit perjalanan. Jembatan gantung  sepanjang 96 m  dinamai Jembatan Sepi dan menghubungkan kawasan di lereng Merapi dengan lereng Merbabu.

Perjalanan masih bersambung ke sebuah pabrik pembuatan keju. Bangunan pabrik cukup sederhana, berbentuk persegi panjang dan terdiri atas beberapa ruangan, yaitu ruang sanitasi, ruang pengolahan dan pengepresan, ruang penyimpanan dan ruang pengemasan. Sesuai dengan namanya, ruang penyimpanan menyimpan ratusan keju berbentuk setengah lingkaran dari berbagai usia :D. Semakin tua umur keju, harga jual semakin tinggi.

Puas mencicipi keju serut, kami pun menuju Tourist Information Center (TIC) yang dikelola oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Boyolali. TIC menyediakan bioskop mini yang memutar film singkat tentang adat, tradisi dan kehidupan masyarakat Selo. Bagi pecinta sejarah, film singkat ini bercerita banyak tentang hubungan Keraton Surakarta dengan kawasan Selo. 

Ternyata, TIC menjadi tujuan terakhir kami di Selo. Sebelum pulang ,kami menuju pendopo desa Samiran untuk makan siang. Pendopo terbuka ini menjadi pusat kegiatan rombongan wisatawan. 

Inilah Selo, sebuah kota di punggung Merapi yang tumbuh dalam harmoni. Maka, selo (luang) atau tidak, datanglah ke kawasan wisata Selo. :)


Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...