Untuk kedua kalinya mengikuti acara 'blusukan' nya komunitas @LopenSMG. Selalu menyenangkan mengetahui sejarah suatu daerah. Memang tak ada yang keliru untuk melihat kembali 'masa lalu'. Ikat hikmah sebanyak mungkin.
Ini adalah sebuah penelusuran tentang jalur trem di kota Semarang. Seiring arus urbanisasi, Semarang yang berkembang sebagai kota berbasis perdagangan kala itu, tak lepas dari serbuan para pendatang. Sehingga transportasi publik terpadu menjadi kebutuhan. Akhirnya kebutuhan itu dijawab oleh NV. Semarang Joana Stoomtram Maastchappij (SJS) pada tahun 1881, tepatnya pada tanggal 1 Desember.
Ada yang unik dari penelusuran hari ini. Sejak keberangkatan dari meeting point di depan java mall, menuju lokasi hingga kembali, panitia mengajak kami memanfaatkan BRT Trans Semarang. Kami beruntung, karena pagi itu, sekitar pukul 10.00, penumpang sedang sepi. Kami ber-50 dapat terangkut dalam satu bus BRT merah.
BRT Koridor III (B)
Hal unik lainnya ialah rute BRT koridor III (B) melewati jalan yang dulu terdapat rel trem pertama sepanjang 4,4 km, yakni lijn (jalur) 1, dari stasiun Djomblang melewati Jl.Mataram (sekarang Jl.MT Haryono) menuju stasiun Jurnatan (sekarang bundaran Bubakan). Meski kini tak tersisa satu pun bangunan bekas Stasiun Jurnatan, di salah satu sudut pertokoan modern masih dapat kita jumpai tiang pengirim sinyal kereta api.
Kondisi Pasar Bulu yang baru diresmikan pertengan Januari 2015
Jalur trem juga melewati alun-alun Semarang (simpang lima) , bodjong weg (Jl. Pemuda), taman Wilhemina (bundaran tugu muda) ,pasar bulu dan berakhir di banjir kanal barat. Luas wilayah kota Semarang kala itu sangat berbeda dengan saat ini. Sebelah utara berbatasan dengan laut jawa, sebelah selatan sampai Gombel, sebelah timur sampai Banjir kanal timur, dan sebelah barat sampai Banjir kanal barat.
Gedung SJS
Bagi
para pengendara dari Semarang menuju Demak via Kaligawe pasti tak asing
dengan bangunan ini. Terletak di salah satu sudut perempatan Pengapon,
dulu bangunan ini adalah kantor NV. Semarang Joana Stoomtram Maastchapij
(SJS). Layanan jaringan trem Kota Semarang yang dikelola oleh SJS
menggunakan lokomotif seri B12 Keluaran NV. Werkspoor dari Belanda dan
Beyer Peacock dari Inggris dengan kecepatan
maksimum hingga 25 km/jam. Berbeda dengan jalur trem di Batavia dengan
double track, trem di kota Semarang hanya satu memanfaatkan satu jalur.
Sehingga disediakan stopplaats (semacam halte) yang tersebar di
beberapa titik, antara lain perempatan Bangkong, Karangturi,Bodjong,
Aloen-aloen Semarang dan Kemijen.
Teknologi
pun semakin berkembang, jaringan Trem di Batavia dan Surabaya mulai
beralih ke tenaga listrik dan beroperasi hingga masa kemerdekaan.
Sebaliknya, jaringan trem di Semarang yang menggunakan lokomotif uap
berbahan bakar kayu jati semakin terpuruk. Puncaknya, karena alasan
penghematan, layanan trem kota Semarang berhenti pada tahun 1940, meski
menuai protes warga kota Semarang. Selanjutnya, lokomotif yang pernah
dioperasikan di Semarang dipindahkan ke Surabaya. Salah satu
lokomotifnya dapat disaksikan di depan Stasiun Pasar Turi Surabaya
sebagai monumen.
Meski tanpa menaikinya, saya menikmati 'perjalanan' trem kota Semarang hari ini. :)




Comments