Pagi itu saya beruntung.
Meski masih dalam renovasi di beberapa area, Museum Kereta Api Ambarawa
telah resmi dibuka kembali sejak 1 Oktober 2014. Bunyi khas cerobong
lokomotif uap menggema hingga ke parkiran. Saya bergegas. Takut
ketinggalan. Bukan ketinggalan kereta, melainkan ketinggalan momen
memotret.
Sang Kepala Stasiun mengangkat tongkatnya. Kereta pun melaju perlahan. Semakin lama bagai titik di tengah laut *boong*. Lokomotif tua bernomor seri B5112 menarik dua buah gerbong berpenumpang. Belum sempat saya mengeluarkan kamera. Ingin rasanya melambaikan tangan. Dalam hati berdoa, semoga kelak bisa merasakan sensasi serupa. Entah kapan, karena harga sewa dan operasional kereta mencapai puluhan juta. Di situ kadang saya merasa sedih...
Kepala Stasium kemudian menyambut kami di ruang kerjanya. Kemeja berdasi adalah seragam wajib seorang kepala stasiun setiap memberangkatkan dan menyambut kedatangan kereta. Ia pun mulai berkisah. Banyak hal yang terungkap, tapi saya justru tak bisa mengingat. Namun saya bisa pastikan, cerita ini sangat menarik. Benar, saya serius.
Ini adalah ruang pamer. Ada beragam koleksi alat komunikasi kuno. Tersimpan manis di box kaca. Lantai berornamen indah. Pintu dan jendela besar. Dinding yang setengahnya terbuat dari kayu. Hmm...banyak sekali 'tanda' yang harus dibaca, dipahami.
Meski stasiun Ambarawa
dibangun atas perintah Raja Willem I, namun karya arsitektur
ini bercerita tentang Nusantara, tentang Indonesia. Bukankah begitu?
Lihat dinding bagian luar ini. Bagian bawah bercat hitam menggambarkan zaman megalitikum, kemudian bagian tengah mengisahkan periode Jawa klasik kuno dengan arsitektur bangunan dari batu yang dipahat, terakhir bagian atas mewakili struktur bangunan pada masa kerajaan Majapahit yang tersusun dari batu bata.
Zaman akan berganti. Sejarah pun terus mengukir. Namun ada baiknya jika... masa lalu jangan (di)biar(kan) berlalu.
Kereta telah kembali
Kepala Stasium kemudian menyambut kami di ruang kerjanya. Kemeja berdasi adalah seragam wajib seorang kepala stasiun setiap memberangkatkan dan menyambut kedatangan kereta. Ia pun mulai berkisah. Banyak hal yang terungkap, tapi saya justru tak bisa mengingat. Namun saya bisa pastikan, cerita ini sangat menarik. Benar, saya serius.
Ini adalah ruang pamer. Ada beragam koleksi alat komunikasi kuno. Tersimpan manis di box kaca. Lantai berornamen indah. Pintu dan jendela besar. Dinding yang setengahnya terbuat dari kayu. Hmm...banyak sekali 'tanda' yang harus dibaca, dipahami.
Stasiun Kereta Api Ambarawa pada awalnya adalah sebuah stasiun yang
bernama Stasiun Willem I, dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia
Belanda pada tanggal 21 Mei 1873. Pada masa pengoperasiannya di masa
kolonialisme Belanda, Stasiun Willem I digunakan sebagai sarana
transportasi militer di sekitar Jawa Tengah. (Sumber : http://heritage.kereta-api.co.id)
Lihat dinding bagian luar ini. Bagian bawah bercat hitam menggambarkan zaman megalitikum, kemudian bagian tengah mengisahkan periode Jawa klasik kuno dengan arsitektur bangunan dari batu yang dipahat, terakhir bagian atas mewakili struktur bangunan pada masa kerajaan Majapahit yang tersusun dari batu bata.
Zaman akan berganti. Sejarah pun terus mengukir. Namun ada baiknya jika... masa lalu jangan (di)biar(kan) berlalu.
Comments