Kaki-kaki kecil berjinjit berlari menyebrangi separuh jalan raya. Gemuruh roda besi menggilas aspal sepanjang beberapa ratus meter. Beberapa pekerja meneriaki kami -saya dan teman-teman- agar berhati-hati melangkah.
Tak bisa dipungkiri jika kehadiran 'mereka bertiga' membuat jalan desa semakin mulus saja. Walaupun kami menyadari, ini tak akan bertahan lama. Setiap hari puluhan truk industri melintas. Meninggalkan jejak-jejak roda berukuran raksasa bila dibandingkan dengan roda sepeda kami.
Ya, mereka bertiga, yang kami pandangi dari jauh. Dari pantai tempat kami jajan dan 'ciblon' di siang bolong. Dari jalan ke dan menuju sekolah. Dari lapangan tempat kami bermain kasti. Dari 'markas' batu besar di atas bukit.
Pernah sekali dua kali. Tak sering. Beberapa kali saja. Saya melihat mereka dari dekat. Tak begitu dekat. Anak kecil tidak boleh berkeliaran di sekitar mereka. Kini, saya bukan anak kecil lagi, tetapi tetap saja tidak bisa mendekati mereka.
Agustus 2016
Saya kembali memandangi mereka. Kali ini, tepat dari depan rumah. Mereka menjulang, menyelisihi tinggi bukit. Seperti lilin di tengah kue tar. Seperti lampu sentir yang menyala dan mengeluarkan asap. Puluhan tahun menerangi negeri dan akan terus.
Tak lama lagi, yang bertiga akan bertambah dua. Yang berdua akan berdiri di tempat dimana kami pernah berdiri.
Terima kasih
5.6.7
Selamat datang
9.10
Comments