Skip to main content

5.6.7

Kaki-kaki kecil berjinjit berlari menyebrangi separuh jalan raya. Gemuruh roda besi menggilas aspal sepanjang beberapa ratus meter. Beberapa pekerja meneriaki kami -saya dan teman-teman- agar berhati-hati melangkah.

Tak bisa dipungkiri jika kehadiran 'mereka bertiga' membuat jalan desa semakin mulus saja. Walaupun kami menyadari, ini tak akan bertahan lama. Setiap hari puluhan truk industri melintas. Meninggalkan jejak-jejak roda berukuran raksasa bila dibandingkan dengan roda sepeda kami.

Ya, mereka bertiga, yang kami pandangi dari jauh. Dari pantai tempat kami jajan dan 'ciblon' di siang bolong. Dari jalan ke dan menuju sekolah. Dari lapangan tempat kami bermain kasti. Dari 'markas' batu besar di atas bukit.

Pernah sekali dua kali. Tak sering. Beberapa kali saja. Saya melihat mereka dari dekat. Tak begitu dekat. Anak kecil tidak boleh berkeliaran di sekitar mereka. Kini, saya bukan anak kecil lagi, tetapi tetap saja tidak bisa mendekati mereka.

Agustus 2016
Saya kembali memandangi mereka. Kali ini, tepat dari depan rumah. Mereka menjulang, menyelisihi tinggi bukit. Seperti lilin di tengah kue tar. Seperti lampu sentir yang menyala dan mengeluarkan asap. Puluhan tahun menerangi negeri dan akan terus.

Tak lama lagi, yang bertiga akan bertambah dua. Yang berdua akan berdiri di tempat dimana kami pernah berdiri.

Terima kasih
5.6.7

Selamat datang
9.10

Comments

Popular posts from this blog

Posong, Lukisan Alam di Kaki Sindoro

Baiklah, tenggo ! Tekad saya dalam hati. Saya akan pulang tepat waktu hari ini. Begitu 'Teng' , saya langsung 'Go' alias cabut. Pukul 11 siang, saya bergegas menuju parkiran, menyalakan motor, dan meluncur ke agen travel di daerah Sukun, sekitar 10 km perjalanan arah selatan Semarang. Pukul setengah dua siang, travel jurusan Purwokerto via Wonosobo meninggalkan keramaian 'terminal bayangan' Sukun. Saya tidak sendiri, ada Nita dan Unying. Unying yang duduk di pojok dekat jendela tampak bahagia dengan perjalanan kali ini. Dan ...dia cepat sekali tidur. Nita dan saya asik bernostalgia. Kami memang teman lama. Mobil travel yang kami tumpangi melewati jalur favorit. Semarang - Bawen - Jambu - Pringsurat - Temanggung. Saya selalu 'tersihir' oleh pemandangan si Gunung kembar, Sindoro dan Sumbing. Keduanya tampak serasi dan gagah. Saya semakin tak sabar, karena  akan melihat keduanya lebih dekat. Kami turun di antara berlikunya jalur sebelum memas...

Mengenal Kota Pekalongan dalam 1/2 Hari

Kota Pekalongan sangat dikenal sebagai sentra batik berkualitas. Sejak dikukuhkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009, geliat industri batik semakin berkembang. Showroom dan Workshop batik mudah dijumpai di setiap sudut kota. Permintaan juga semakin meningkat. Tak sedikit pecinta batik yang sengaja datang langsung ke kota di pesisir pantai utara Jawa ini untuk berburu aneka batik. Namun, kota Pekalongan tidak hanya tentang batik. Banyak potensi wisata lainnya yang menarik untuk dikunjungi. Jika hanya memiliki sedikit waktu untuk liburan, kota Pekalongan menjadi pilihan. Karena di kota ini, Anda dapat mengunjungi 5 tempat menarik hanya dalam setengah hari. Ini dia! Museum Batik Pekalongan Menempati bangunan bekas kantor keuangan Pabrik Gula pada masa kolonial Belanda, Museum Batik Pekalongan terletak sangat strategis di kawasan budaya Jetayu, tepatnya Jl. Jetayu No. 1, Kota Pekalongan. Sejak diresmikan oleh Presiden ke-6 RI, Bapak Susilo Bambang Yudhoy...

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...