Skip to main content

Posts

'Khatam' Jawa Tengah

Bermula dari angan-angan ingin ikut study tour ke Bali, saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah di JAWA. Itu berarti, saya harus migrasi alias merantau ke kota di Jawa Tengah atau Jogja.  Kota Jogja cukup familiar buat saya karena Ibu sering mengajak saya ke pasar Beringharjo untuk kulakan (jualan) batik. Biasanya lagi, berujung dengan makan nasi rames di los pasar bagian dalam. Maka, Jogja adalah impian. Ternyata, saya justru bersekolah di sebuah kota mungil dan sejuk di utara Jogja, kota Magelang. Menariknya, kota ini dikelilingi gunung dan pegunungan. Konon, itulah mengapa nama kota ini Magelang yang merupakan singkatan dari Maha Gelang atau gelang yang besar. Meski telah dikelilingi gunung dan perbukitan, di tengah kota Magelang terdapat bukit Tidar yang rimbun dengan pepohonan pinus. Alam dan masyarakatnya membuat saya merasa nyaman tinggal di sini.  Dan Magelang bukan satu-satunya, saya juga merasakan hal yang sama saat tinggal di kota-kota lainnya di Jawa...

Muter-muter Klaster Sangiran

Setelah dibikin penasaran dengan upload-an foto di akun Instagram, saya berharap bisa mengunjungi Museum Klaster Sangiran yang baru. Alhamdulillah... terwujud. :) Kawasan Sangiran terletak di Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen yang dapat ditempuh melalui kota Surakarta ke utara menuju arah purwodadi atau dari kota Semarang ke selatan , kemudian berbelok kiri pada lampu merah sebelum terminal Tingkir - Salatiga. Sebelum menjadi Situs Warisan Dunia, kawasan Sangiran dikenal sebagai area yang gersang. Lahan mereka hanya bisa digarap pada saat musim penghujan. Saat musim penghujan datang, terjadi tanah longsor di beberapa titik yang justru menyingkap penemuan fosil. Masyarakat Sangiran menyebutnya 'balung buto' dan dimanfaatkan sebagai ramuan obat oleh para shinse. Van Koenigswald datang ke Sangiran pada tahun 1934. Ia memperkenalkan pada masyarakat bahwa balung buto tersebut merupakan fosil, salah satu benda berharga. Untuk mencukupi kebutuhan hidup, masyarakat menjual fo...

Dieng Lebih-lebih

3 tahun berselang, saya masih penasaran dengan Dieng. Sebagai pendatang dan seorang yang kurang piknik, saya baru menyadari kalau ada 'negeri' seindah Dieng, negeri pada ketinggian di balik gunung.  Diam-diam, di awal tahun 2014, saya mencantumkan Dieng dalam daftar 'keinginan' saya. April 2014, kesempatan itu datang. Saya pernah mem-posting-nya di sini . Sebulan kemudian, pada akhir Mei, saya berhasil mengompori teman-teman saya untuk kembali ke Dieng. Tujuan utama kami adalah Bukit Sikunir. Saya juga sempat mem-posting-nya di sini . Telaga Merdada Kala itu, trip 24 jam Dieng berhasil membawa kami menjelajahi Batu Pandang untuk melihat Telaga Warna dan Pengilon dari ketinggian. Memandang dua telaga dari Batu Pandang Akhir Agustus 2014, saya turut larut dalam kemeriahan Dieng Culture Festival. Sebuah event rakyat besutan Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang bertujuan mengangkat potensi budaya sekaligus wisata di Dieng. Lebih dari 2000 paket wisata te...

Dijeng 12 Djam

"Coba Mbak, cari di internet dengan kata kunci Dijeng, dengan 'j'," ujar Pak Alif, seorang penggiat wisata di Dieng Kulon. Fasilitas wifi di homestay milik Pak Alif menjadi andalan untuk segera ber-googling ria. Yes, ini dia. "Gambar itu diambil oleh orang Belanda dari bukit pangonan. Pemandangannya tidak kalah dengan Sikunir", jelasnya. Saya menunjukkan gambar hasil googling untuk memastikan. "Rencana, dalam waktu dekat kita mau me-launching bukit pangonan," tambahnya Nah lho, baru kembali dari puncak sikunir sudah dii ming-imingi spot ketinggian lainnya. Duh Dijeng, pesonamu.... Puncak Sikunir Ini dia, gapura 'Welcome to Sembungan Village, desa tertinggi di Jawa'. Segera kami mencari parkir sebelum penuh. Sekitar pukul 3 pagi, kami memulai pendakian. Sebelumnya, transit di toilet umum adalah keputusan bijak, mengingat udara yang dingin. Brrr.... Baru sampai di jalan masuk, kami mendengar percakapan. Salah satunya ber...

Sayur Becek : Sup Super Istimewa

Apa yang terpikir dalam benak Anda saat mendengar 'Sayur becek'? Bagi pecinta hijau-hijauan, bisa jadi kuliner ini adalah pilihan yang keliru. Namun bagi penggemar balungan , sayur becek-lah jawabannya.   Sekilas, sayur becek mirip dengan sayur sup namun kaya akan kaldu daging karena menggunakan balungan sebagai bahan utamanya. Balungan (bahasa Jawa) yang dimaksud ialah tulang iga sapi dengan daging yang masih menempel. Tulang iga sapi dimasak bersama bumbu rempah-rempah ditambah daun kedondong. Semangkuk sup super ini dihidangkan di dalam mangkok bersama sepiring nasi hangat yang diberi tumisan kacang tolo dan cabai hijau.   Sayur becek merupakan hidangan khas masyarakat Purwodadi pedesaan yang disajikan sebagai jamuan untuk para tamu pada saat acara hajatan. Kini, hi dangan berkuah ini telah menjadi menu masakan rumah makan. Lezatnya sayur becek dapat dijumpai di Warung Makan Putra 45 di Jl. Jendral Sudirman Purwodadi.

Capturing Dieng Morning Dew

"Mbak, bisa ambil gambar bagus dari balkon, " ujar pemilik homestay. Padahal pagi sudah tergelincir jauh. Tapi udara dingin Dieng masih menyisakan uap tiap kali berbicara. Saya bergegas menuju balkon menapaki lantai dan tangga berkarpet. Hampir setiap rumah penduduk di Dieng beralaskan karpet  merah . Nun dari kejauhan tampak lanskap Gunung Prau, Gunung Sindoro, Gunung Pakuwaja dan Komplek Candi Arjuna. Rupanya masih ada kesempatan menangkap momen. Masya Allah :) Capturing Dieng Morning Dew

Tengkleng : Kuliner Rakyat nan Berkelas

Situasi kondisi seringkali menciptakan kreativitas baru. Mungkin cocok kiranya kalimat tersebut menjadi pengantar kisah di balik kuliner Tengkleng. Dahulu, hanya para tuan dan noni Belanda yang dapat menikmati kelezatan olahan daging kambing dengan kuah kental. Sementara, rakyat jelata hanya dapat menyaksikan mereka makan. Sisa-sisa bagian kambing, seperti tulang dan jeroan, dibuang. Para kuli mengolah sisa bagian kambing (selain daging) itu bersama kuah encer bernama tengkleng.Namun, lain dulu lain sekarang, tengkleng menjadi masakan berkelas yang juga tersaji di hotel berbintang. Tengkleng Mbak Diah- Solo Baru Tengkleng merupakan masakan sejenis gulai tanpa santan. Rasanya gurih bercampur sensasi pedas dari cabai. Kenikmatan tengkleng tak hanya dari rasa, melainkan juga dari cara memakannya, yaitu dengan menggerogoti. Menggerogoti adalah cara lazim, karena tengkleng asli menggunakan tulang belulang sebagai bahan utama, maka hanya sedikit daging yang menempel. Kuliner rakyat...