3 tahun berselang, saya masih penasaran dengan Dieng. Sebagai pendatang dan seorang yang kurang piknik, saya baru menyadari kalau ada 'negeri' seindah Dieng, negeri pada ketinggian di balik gunung. Diam-diam, di awal tahun 2014, saya mencantumkan Dieng dalam daftar 'keinginan' saya.
April 2014, kesempatan itu datang. Saya pernah mem-posting-nya
di sini. Sebulan kemudian, pada akhir Mei, saya berhasil mengompori teman-teman saya untuk kembali ke Dieng. Tujuan utama kami adalah Bukit Sikunir. Saya juga sempat mem-posting-nya
di sini.
 |
| Telaga Merdada |
Kala itu, trip 24 jam Dieng berhasil membawa kami menjelajahi Batu Pandang untuk melihat Telaga Warna dan Pengilon dari ketinggian.
 |
| Memandang dua telaga dari Batu Pandang |
Akhir Agustus 2014, saya turut larut dalam kemeriahan Dieng Culture Festival. Sebuah event rakyat besutan Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa yang bertujuan mengangkat potensi budaya sekaligus wisata di Dieng. Lebih dari 2000 paket wisata terjual kepada wisatawan lokal maupun luar kota. Mungkin untuk pertama kalinya, Dieng MACET TOTAL.
 |
| Kemeriahan dari kejauhan |
Kesempatan berikutnya datang di bulan Oktober 2014. Bersama biro perjalanan dari Malaysia dan Singapura, saya melakoni one day tour ke Dieng. Rasa lelah terbayar melihat mereka terkagum-kagum akan keindahan Telaga Warna. Padahal saat itu air surut akibat kemarau.
 |
| Selfie Sendiri |
Dan Desember ini, saya kembali ke Dieng bersama teman-teman baru dari Travel Blogger. Kisah serunya masih ter-posting dalam hati dan pikiran. ;P
 |
| Para pejalan punya cerita |
Tak habis saya bersyukur. Kesempatan itu datang bertubi-tubi. Dan di dalam hati, Dieng tetap ingin saya jelajahi. Prau, Bisma, Bukit Pangonan, Legetang ...... semoga :)
Comments